Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas
penyerahan barang kena pajak (BKP) dan jasa kena pajak (JKP), serta
disetor dan dilaporkan di kantor pajak setempat. PPN merupakan jenis
pajak tidak langsung, dimana penanggung pajak (pembeli / pihak yang
menerima barang dan jasa), tidak menyetorkan pajak tersebut sendiri,
melainkan pajak disetorkan oleh pihak yang menyerahkan BKP dan JKP
(penjual). PPN juga dikenakan kepada sebagian besar barang-barang impor
dari luar Indonesia yang dibawa masuk ke dalam negeri.
Untuk dapat mengkreditkan PPN atas suatu barang dan jasa, Wajib
Pajak harus terlebih dahulu mendaftarkan diri menjadi Pengusaha Kena
Pajak (PKP).
PPN yang disetor oleh PKP dapat dikreditkan pada bulan berikutnya
setelah terjadinya transaksi atas barang atau jasa kena pajak.
Terdapat tiga kategori tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN):
- Tarif umum – 10%
- Tarif 0% untuk ekspor BKP Berwujud; ekspor BKP Tidak Berwujud; dan ekspor Jasa Kena Pajak
- Tarif PPN umum lain dapat berkisar antara 5-15% sesuai peraturan pemerintah.
Anda dapat menikmati kemudahan melaporkan PPN dengan menggunakan OnlinePajak,
aplikasi pelaporan pajak yang hanya membutuhkan koneksi internet, mudah
digunakan, dan terintegrasi. Tinggal masukkan detail faktur pajak, OnlinePajak akan segera menghasilkan laporan PPN dan PPh 23 untuk Anda!
Pada halaman berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai:
- Pengertian PPN
- Pengusaha Kena Pajak sebagai pihak penyetor dan pelapor PPN
- Mekanisme Perhitungan PPN serta laporannya
- Tarif PPN
- Tarif 0% dan pembebasan PPN
- Info lebih lanjut seputar PPN
- Daftar Istilah PPN
Pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
PPN merupakan pajak yang dikenakan pada transaksi yang terjadi
atas penyerahan barang dan jasa kena pajak di Indonesia. Nilai PPN
ditambahkan pada harga pokok barang dan jasa yang diperjualbelikan.
Karena PPN merupakan pajak tidak langsung, maka yang menyetor pajak
tersebut bukanlah penanggung, melainkan penjual atau dengan kata lain
pihak yang menyerahkan barang dan jasa tersebut. Penanggung merupakan
pihak pembeli atau penyewa serta pembayar transaksi barang dan jasa.
Dengan demikian, penanggung dapat berupa konsumen komersil
(non-korporat), atau pelanggan bisnis.
Pengusaha Kena Pajak sebagai pihak yang menyetor dan melaporkan PPN
Sebagai PKP, sebuah usaha dapat mengenakan PPN pada barang dan
jasa yang ditawarkan, serta PKP dapat mengkreditkan PPN yang diperoleh
dari hasil transaksi antar pelanggan maupun Lawan Transaksi.
Syarat mendaftar menjadi PKP
Bagi pengusaha baik besar maupun kecil, perusahaan atau individu,
jika penghasilan per tahun dari barang dan jasa kena pajak yang
diperjualbelikan mencapai 4,8 milyar rupiah, maka pengusaha wajib
mendaftarkan diri menjadi Pengusaha Kena Pajak, sesuai Peraturan Menteri
Keuangan No. 197/PMK.03/2013.
Jika penghasilan per tahun di bawah 4,8 milyar rupiah, maka pengusaha tidak harus mendaftarkan diri menjadi PKP.
Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN
Menurut UU Nomor 42 Tahun 2009 pasal 4A, terdapat beberapa jenis
barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN, seperti uang, emas batangan,
surat berharga, barang hasil pertambangan atau pengeboran, barang
kebutuhan pokok, dan makanan yand disajikan hotel, restoran dan
sejenisnya, serta jasa yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan,
sosial, dan masih banyak lagi. Selengkapnya dapat dibaca pada
undang-undang tersebut di atas.
Mekanisme Perhitungan PPN serta laporannya
Sebagai PKP, PPN yang dikenakan pada barang atau jasa yang Anda
beli disebut Pajak Pemasukan. Sedangkan PPN yang dikenakan pada barang
atau jasa yang Anda jual kepada pelanggan, disebut Pajak Pengeluaran.
Jika dalam satu masa pajak, Pajak Pemasukan lebih besar daripada
Pajak Pengeluaran, maka selisihnya dapat dikreditkan kepada bulan
berikutnya.
Jika Pajak Pengeluaran lebih besar daripada Pajak Pemasukan, maka selisihnya harus disetor kepada pemerintah
Melaporkan PPN Anda
Setiap PKP memiliki kewajiban untuk melaporkan PPN mereka setiap
bulannya kepada pemerintah. Jika tidak terdapat terdapat transaksi apa
pun pada bulan itu, laporan tetap harus dibuat, hanya saja pada neraca
tertulis nihil (0). Laporan ini dibuat pada formulir yang disebut dengan
Surat Pemberitahuan Masa PPN (SPT Masa PPN).
Tarif PPN
Menurut peraturan pemerintah, terdapat tiga kategori perhitungan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) antara lain:
- Tarif umum – 10%
- Tarif 0% untuk ekspor BKP Berwujud; ekspor BKP Tidak Berwujud; dan ekspor Jasa Kena Pajak
- Tarif PPN umum lain dapat berkisar antara 5-15%
Untuk penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Undang-undang No.42 Tahun 2009 pasal 7.
Perbedaan antara barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN dengan barang dan jasa yang dikenakan tarif PPN 0%
Transaksi atas barang dan jasa yang dikenakan tarif 0% tetap
terhitung sebagai pajak yang dapat dikreditkan, dengan demikian
transaksi tersebut tetap dilaporkan dalam SPT Masa PPN.
Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN, akan tergolong sebagai
barang bebas pajak, sehingga tidak dapat dikreditkan maupun dilaporkan
dalam SPT Masa PPN. Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengacu pada UU
No. 42 Tahun 2009 Pasal 4A.
Info lanjut seputar PPN
Terdapat beberapa penjelasan lain seputar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada situs ini, termasuk penjelasan mengenai:
Sistem OnlinePajak merupakan sistem persiapan pajak online yang
terintegrasi khusus buat para wajib pajak badan di Indonesia. Dengan
sistem ini, Anda dapat menghitung, menyetor, dan melaporkan SPT Masa PPN
secara online melalui satu sistem yang terintegrasi. Anda dapat
menggunakannya langsung melalui situs OnlinePajak, dengan melakukan
registrasi dengan akun email Anda.
Sistem ini sendiri memberikan kelebihan lain, dimana sistem ini
dapat di-upgrade secara otomatis, menyesuaikan dengan perubahan
peraturan perpajakan pemerintah yang terbaru, serta dapat menyimpan data
secara aman, sehingga informasi tersebut dapat diakses untuk masa pajak
berikutnya. Serta yang terakhir, sistem ini dapat bekerja dengan
menggunakan Operating System apa pun.
Apabila informasi ini berguna untuk Anda, cobalah gunakan aplikasi OnlinePajak untuk memudahkan pelaporan PPN perusahaan Anda.
Daftar Istilah PPN
Berikut adalah beberapa istilah yang berhubungan dengan PPN:
- Masa Pajak: jangka waktu yang diberikan kepada Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu periode tertentu. Umumnya satu masa pajak adalah satu bulan.
- BKP: Barang Kena Pajak
- JKP: Jasa Kena Pajak
- PPnBM: Pajak Penjualan atas Barang Mewah
- Daerah Pabean: wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landasan kontinen yang berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
- PKP: Pengusaha Kena Pajak
- DPP: Dasar Pengenaan Pajak yaitu harga jual pokok sebelum dikenakan pajak.
- Nilai ekspor: merupakan nilai (uang) atas barang yand diekspor termasuk semua biaya yang terkandung di dalamnya.
- Nilai impor: nilai (uang) atas barang yang diimpor yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai.
- SPT Masa PPN 1111 adalah formulir terbaru terbitan tahun 2011 yang digunakan untuk melaporkan PPN.
- SPT Masa PPN 1111Dm adalah formulir terbaru terbitan tahun 2011 yang digunakan untuk melaporkan PPN khusus PPN masukan yang menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan, biasanya digunakan bagi PKP yang melakukan transaksi (penyerahan) kendaraan bermotor bekas atau emas perhiasan.
- Pajak Pemasukan: adalah Pajak Pertambahan Nilai yang ditanggung PKP saat membeli barang atau jasa kena pajak, dan merupakan pajak terutang penjual yang harus dilaporkan oleh penjual.
- Pajak Pengeluaran: adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang PKP, dan diperoleh saat PKP menyerahkan/menjual barang atau jasa kena pajak. Pajak ini merupakan tanggungan pembeli/pelanggan, dan merupakan kewajiban PKP untuk menyetor dan melaporkannya kepada kantor pajak setempat.